Minggu, 26 Januari 2014

keajaiban membuka mata"cerpen"



Keajaiban Membuka Mata
“alamatnya di mana dek ?”Tanya suara itu pelan senyap dan hilang lalu kembali gelap, perlahan dia melihat sosok laki-laki besar di balik cahaya titik terjauh dia memandang, betapa terkejutnya gadis itu melihat dirinya tiba-tiba berada di ruang tanpa sudut dan hanya satu titik cahaya.  Matanya berkeliling dengan perasaan takut untuk mencari celah, tetapi tetap saja tubuhnya yang terlanjur mengalir rasa ketakutan membuat tubuhnya mematung, semakin bayangan sosok laki-laki itu mendekat, semakin aliran darahnya membeku, keringat menuruni setiap celah kulitnya, terdengar suara kasar seakan berbisik padanya, apa yang kamu lakukan di sini?. Gadis itu hanya menatap sosok hitam yang sebentar lagi akan menelan hidupnya, tetapi aneh ketika bayangan itu sudah menjarah dingin di sekitarnya, secepatnya bayangan itu hilang dan beberapa detik hingga akhirnya ia bisa bernafas lega bersamaan itu pula terasa guncangan pelan dan perlahan tubuhnya seakan terangkat dan Brukkkkk……
“awwwww” sahutnya dengan suara kesakitan agak terlambat, orang yang berada di samping gadis itu langsung menatapnya sinis, orang tua yang berada setelah tatapan sinis itu tertawa bersamaan dengan suara yang menanyakan alamat padanya. Sambil memegangi kepalanya yang terbentuk di atap mobil, gadis itu memperhatikan sekitarnya, aku masih berada di mobil pikirnya memperbaiki kembali posisinya, sambil mencari buku yang tanpa sengaja dijatuhkannya saat kepalanya terbentur, malaikat mimpi sepertinya senang masuk ditidurku, pikirknya sambil memperhatikan sampul novel yang baru saja di bacanya, buku yang berjudul “Jack The Giant Slayer” oleh Darren Lemke dan David Dobkin yang menceritakan tentang petualangan jack mengalahkan para Raksasa,lagi-lagi buku ini membuatku bermimpi buruk, benar-benar buruk. pikirnya lagi memasukkan buku itu ke tas ranselnya.
“alamatnya dimana dek?” tanya pak supir mengulang pertanyaannya karena tadi gadis yang menjadi penumpangnya itu tidak menjawab saat melihatnya tertidur.
“saya tinggal di dekat pasar sentral pak, tapi turunnya di Jalan Jenderal Sudirman saja “ katanya kembali melihat keluar jendela hanya beberapa menit lagi dia bisa sampai di kota kelahirannya, Pinrang berseri, pikirnya lagi sekejap menutup mata. Tangan kanannya menjulur pelan keluar jendela merasakan angin yang bertiup menyentuh pori-pori kulitnya. Kerinduan akan kotanya sudah lama ia rasakan, tapi baru kali ini dia akan kembali seutuhnya dan menetap setelah kelulusannya di Universitas Makassar dan meraih gelar pendidikan S1, rencananya dia akan mengajar di sekolah unggulan yang terdapat di Pinrang sebagai guru Bahasa Indonesia.
“terima kasih pak” kata gadis itu setelah membayar dengan uang pas dan tiba tepat di tempat tujuannya, sambil menarik nafas dia kembali memperhatikan bangunan yang berdiri kokoh tepat didepannya, gerbang yang terbuka bebas, pepohonan yang menari-nari bersama angin, diluar gerbang terlihat beberapa warung kecil yang siap menyambut para pendatang. Tidak seperti tempat lainnya tempat ini sudah menjadi jantung kota Pinrang,’Mesjid Al-Munawwir’ ya…tempat ini menurutku bukan tempat biasa, mesjid ini merupakan mesjid yang dibangun pada saat kemimpinan Bupati Andi Nawir, sesuai dengan nama Beliau mesjid ini diberi nama Al-Munawwir, selain tempat ibadah tempat ini dijadikan tempat beristirahat, suguhan dua buah kolam yang berisi banyak jenis ikan emas (begitulah di daerah kami menyebutnya) ukurannya cukup besar, jika ingin melihat ikan ini bermunculan jinak di tepi kolam, pengunjung biasanya membawa beberapa jenis makanan yang memang diperbolehkan oleh penjaga yaitu mie kering, makanan ikan dan uniknya lagi, ikan ini juga menyukai roti tawar yang dicabik kecil lalu dilemparkan ke kolam, pohon yang berjajar rapi di tepi kolam dan kolam air mancur membuat tempat ini menjadi tempat favorit gadis itu, sebelum ia kembali kerumahnya, tidak pernah dia melewatkan tempat ini.
“ hei Ra,,!”sahut seseorang dari belakang memperhatikan baik-baik gadis yang memintanya datang, memastikan orang yang dilihatnya benar-benar Rara.
“kak Fais…!” balas Rara menepuk tanganya sendiri membersihkan sisa-sisa makanan yang sudah habis bersamaan dengan kedatangan laki-laki yang bernama Fais kakak kelas Rara saat masih SMP sekaligus teman Rara dan juga menurutnya laki-laki itu tidak lebih sebagai motivator bagi dirinya.
“selamat..”ujar Fais menjulurkan tanganya untuk berjabat tangan pada Rara, sebagai ucapan kelulusannya dan diterimanya dia menjadi guru. Beribu kekaguman selalu memutar di pikiran Rara ketika melihat laki-laki ini, laki yang sudah menjadi teman cerita di Facebook, Twitter, SMS dan selalu menjadi laki-laki yang siap memberikan nasehat dan semangat ketika Rara menghadapi masalah, siap membantunya ketika dia butuh bantuan tentang perkuliahannya hingga akhirnya peran Fais dibelakang layar membuat Rara selalu bersemangat.’apa yang aku pikirkan sekarang?’ lagi-lagi suara itu membuatnya tersadar akan sosok laki-laki yang sudah duduk disampingnya.’Ra…sadar dia sudah menjadi milik temanmu sendiri, dia percaya padamu’.
“hei…” panggil Fais membuyarkan lamunan Rara, sambil menunjuk ke dalam mesjid dan menunjukkan jam padanya “shalat ashar..!”guman Rara berdiri diikuti Fais masuk terpisah ke mesjid.
“sudah hampir malam” guman Rara memperhatikan jam digital di Hpnya.
“sepertinya akan turun hujan” lanjut Fais melihat langit yang tertutup awan gelap, mereka pergi secara terpisah walau Rara sempat berpikir untuk mendapatkan tumpangan dari Fais. Rara melangkahkan kakinya seirama dengan angin yang bertiup, gerimis membasahi jilbab gadis itu dan dengan langkah dipercepat setengah berlari dia menghampiri pos ojek yang berada tidak terlalu jauh dari mesjid.
“mau kemana dek..?” sahut tukang ojek menghampiri Rara yang berteduh.
“ke Jalan Melati pak,”
“Neng Rara toh..!” ujar tukang ojek satunya berdiri menghampirinya.
“pak Joko” katanya berbalik suara tukang ojek yang tidak asing ditelinganya itu mengingatkan pada tetangganya sendiri, dan benar saja setelah memperhatikan laki-laki berumur 50 tahun dengan dialek Jawa yang tidak pernah berubah dan sangat kental terus melekat diingatannya tentang keluarga pak joko yang sudah menjadi tetangganya empat tahun lalu, dan pak joko seperti bagian keluarganya sendiri. Setelah beberapa menit hujan yang tadinya begitu deras akhirnya mereda walau rintik-rintik masih enggan berhenti, dengan diantar oleh pak joko sendiri, Rara tiba di rumahnya, kakinya terhenti memperhatikan rumah kontrakannya, berharap seseorang berdiri di depan pintunya tertawa menyambut kedatangannya. ‘Ayah, ibu dan adik-adikku’ pikirnya kembali mengayunkan langkah membuka pintu, dua tahun ia meninggalkan rumah kontrakannya dan kini rumah ini akan menjadi saksi apa yang akan dilakukannya di kota ini. Setelah memasuki rumah dan melihat-lihat, suasananya masih sama meski Rara menyebutnya rumah kontrakan tetapi sebenarnya rumah ini bukan lagi kontrakan tetapi sudah menjadi miliknya sejak dua tahun lalu, Rara membuka pintu kamar, keadaan rumah begitu bersih dan tanpa debu sedikitpun, berkat istri pak joko yang selalu datang membersihkan rumah ini.  Gadis itu merebahkan tubuhnya di kasur mengingat kakeknya yang sudah memberikan rumah ini atas namanya,’besok aku harus ke makam kakek’.
“kak Rara….”sahut seseorang dari luar
“Rasmi…” ujar Rara menghampiri suara gadis itu, tidak lama kemudian terdengar tiga suara anak laki-laki berlarian masuk memanggil nama Rara, mereka berempat adalah anak pak joko, mendengar kedatangan Rara mereka langsung melompat pagar jalan tercepat masuk ke halaman rumah Rara.
“kamu sudah kelas berapa sekarang?”katanya menyambut anak-anak itu dan tidak lupa ia memberikan oleh-oleh yang dibelinya saat perjalanan pulang.
“kelas 1 SMA, masa kakak lupa ! kemarinkan aku nelpon kakak, aku diterima di SMA unggulan itu dan kakak memberitahuku kalau kakak akan mengajar di sekolah kami” ujar Rasmi merangkul manja dilengan Rara.
            Sebulan berlalu Rara begitu menikmati profesinya sebagai pengajar, kecintaannya pada cita-cita yang sudah lama menoreh sejak kecil itu membuatnya begitu menikmati kehidupannya, tetapi dibalik senyum gadis itu tidak lengkap, tanpa kehadiran ayah dan ibunya. Rara masih ingat betul kejadian yang membuatnya harus diusir dan hidup sendiri di kota Makassar membiayai kuliahnya sendiri, dan terkadang kakeknya membantunya sedikit, kejadian itu saat Rara sudah lulus SMA dan ingin sekali melanjutkan pendidikannya, tetapi Rara tidak bisa berkutik saat sebulan kemudian orang tuanya memberitahu tanggal pernikahannya, usia 16 tahun menurut keluarga adalah umur yang sudah cukup untuk menikah, Rara hanya bisa terdiam saat acara Mappattuada (bugis pinrang yang berarti lamaran kedua yang menentukan hari pernikahan) sudah Pattu (sudah diputuskan). Hidup dikeluarga yang miskin dan orang tua yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah dan buta huruf membuat keputusan satu-satunya bagi wanita seusia Rara harus dilepaskan kepada orang lain atau suami, pemikiran seperti itu terutama di daerah terpencil kota pinrang adalah hal yang wajar, dihari pernikahannya dengan menggunakan Sigara (baju yang dipakai dalam pernikahan adat bugis pinrang) melekat indah ditubuhnya sesaat sebelum bertemu dengan mempelai pria dan Ijab Qabul, matanya sembab gara-gara menangis, tatapannya kosong, meski dikamarnya sudah disulap seindah mungkin, tetap saja wajahnya tak pernah menyetujui, dia tidak ingin mimpinya terhenti hanya gara-gara pernikahan sepihak ini, entah bisikan apa yang membuatnya tiba-tiba berdiri menuju pintu menyuruh anak-anak kecil yang sejak tadi mengelilinginya keluar, dan mengunci pintu. Tanpa berpikir Rara mencopot satu persatu Pakaian yang digunakannya, Make up diwajahnya secepat dihapus, Rambutnya yang keras akibat riasan dibiarkan begitu saja, dia meraih ponsel milik abangnya dan beberapa lembar uang yang lumayan banyak dimasukkan dalam tas kecilnya, uang itu  masih menjadi miliknya dia tidak lagi menghitung seberapa banyak uang dibawanya, seingatnya uang bertuliskan 10 juta di ikatan uang kertas merah itu terbaca jelas.
            Hari itu Rara tidak pernah berpikir bagaimana ia bisa lolos dari keramaian orang dengan langkah hati-hati dan menutupi wajahnya dengan jilbab dan topi, Rara berlari memanggil ojek dan membawanya sejauh ia bisa hilang dari keluarganya, dengan menggunakan pete-pete ia menuju ke kota pare-pare dan di sanalah Rara baru sadar apa yang dilakukannya sekarang dan mengapa ia bisa sejauh ini dari rumahnya sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukannya Rara meraih Hp abangnya dan menghubungi Nomor yang sudah dihafalnya.
Terdengar suara motor berhenti dibelakangnya, saat itu hari mulai gelap dan Rara menikmati kaburnya di tepi pantai Pare-pare sendiri menunggu kedatangan seseorang.
“kamu gila?” ujar seseorang tiba-tiba meletakkan helmnya disamping Rara dan ikut duduk.
“aku tidak tahu harus kemana?”guman Rara pelan, dia tidak bisa lagi menangis air matanya seperti terkuras kering.
“biar aku yang membawamu pulang”bujuk Fais menarik lengan Rara, dia hanya mengikuti Fais dan tidak berpikir lagi apa yang akan terjadi saat ia tiba di rumahnya sendiri.
Plakkkkk…..
Tamparan menyambut kedatangan Rara, disaksikan banyak keluarga dan tetangga dia ditendang oleh ayahnya sendiri, ibunya hanya bisa duduk diam sambil menangis dipelukannya Tante Ani saudara ibunya. Pukulan yang dia dapatkan dari ayahnya masih berbekas di tubuhnya sampai saat ini, mempermalukan keluarga tidak setimpal dengan apa yang dialaminya. Cibiran, bisikan dan mata yang menghujaninya dengan sinis, tatapan kasihan yang mengantar kepergian langkahnya saat ayahnya menyuruhnya pergi. Kedua adik kembar laki-lakinya berlari menarik baju Rara sambil menangis dan menendang tanah yang tidak tega membiarkan kakak perempuan yang selalu mengajarkan dan membantunya mengerjakan pekerjaan sekolahnya kini hanya beberapa saat Rara telah pergi, anak-anak berlarian melihat kepergiannya sampai anak-anak itu tidak lagi pergi jauh karena teriakan orang tuanya.
“sudah lama menunggu….?” Sahut Fais mengejutkannya dan membuyarkan lamunan masa lalunya. Siang itu sepulang mengajar, Fais mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kota Pinrang entah ada apa dengan laki-laki ini tiba-tiba mengajaknya keluar. Walaupun kota kecil tetapi kota Rara banyak menyimpan kenangan baginya, hari ini setelah menikmati es cendol di lapangan Lasinrang, Fais kembali meluncur dengan mobil silver Avansa. Dia membawa gadis itu menuju ke Stadion Bau Massepe tempat yang tidak pernah dikunjungi oleh Rara.
Suasana begitu Ramai seperti perayaan 17 Agustus, siswa-siswa SMA dan SMK mondar-mandir mendirikan tenda di sekitar stadion yang cukup luas itu, yang memang sering di jadikan tempat berkemah siswa-siswa Pramuka. Rara tidak tahu mengapa Fais mengajaknya ketempat ini, meskipun dia guru dan mengajar di salah satu sekolah yang ikut perkemahan ini, tetapi dia tidak mendapat perintah untuk mengawasi siswanya.
“ada yang ingin bertemu denganmu”ujar Fais melangkah di ikuti Rara, dia memperhatikan sekeliling Stadion, matanya meneliti satu persatu sudut, bangunan yang cukup lama dan berdiri beberapa meter dari atas kepalanya, melihat bangunan ini mengingatkannya pada gambar yang sering dilihatnya, kolloseum di Roma pikirnya tersenyum, kembali melangkah sesaat tadi langkahnya terhenti untuk berpikir bangunan bersejarah yang ada di Roma.
“kita tunggu disini saja…”ujar Fais lalu duduk di di sudut kursi, melihat kebawa, semua aktifitas terlihat jelas dari atas.
“siapa yang akan kita temui….?ohhh….” ujar Rara mengingat sesuatu mengeluarkan ponselnya.
“akhir-akhir ini aku menghubungi Tenri, tetapi kok nomornya nggak aktif..”lanjutnya mengingatkannya pada kekasih Fais, saat mendengar nama Tenri wajah Fais berubah kaku, tampak jelas diwajahnya ia sedang berpikir apa yang akan dikatakannya pada Rara mengenai gadis yang sebulan lalu memutuskan hubungannya dan memilih pergi ke Jakarta demi impiannya menjadi seorang model. Apakah ini kesempatan yang diberikan Allah padaku? bisik Rara dalam hati sambil memperbaiki jilbabnya yang tertiup angin. Mata mereka sejenak bertemu dan Fais tersenyum padanya. Tiba-tiba kejutan yang tidak pernah disangka oleh Rara dua anak laki-laki memakai seragam sekolah SMK, wajah mereka begitu mirip mengagetkan Rara muncul dari arah samping.
“kalian…!” ujar Rara menghampiri kedua anak laki-laki itu, anak laki-laki yang terakhir kali ia melihatnya masih merengek, Rara melihat secara bergantian adik kembarnya yang sudah bertambah tinggi, terakhir ia melempar senyum terima kasih kepada Fais, karena lagi-lagi berkatnya dia dapat melihat adiknya.
“bagaimana keadaan ayah dan ibu?” tanya Rara berat, sejak tadi ia ingin menanyakan keadaan orang tua yang begitu dia rindukan.
“ayah dan ibu meski tidak secara langsung, dia ingin kakak pulang”ujar Fahran yang lebih tua sejam dari Kahran.
“setiap malam ibu dan ayah secara bergantian terbangun ditengah malam dan menangis melihat foto kakak, di setiap sujud ibu dan ayah mereka merindukan kakak”lanjut Kahran sambil memasukkan buku-buku yang tadi diperlihatkan kepada Rara. Setelah  beberapa lama mereka berdua pergi karena mendapat panggilan berkumpul. Rara kembali murung hatinya berkecamuk dan penuh dosa dengan kedua orang tuanya, sampai sekarang dia seperti sulit memaafkan dirinya sendiri dan merasa malu bertemu dengan orang tua yang sudah dipermalukannya.
“semarah apapun mereka, tetap saja mereka tidak akan pernah melupakan anak yang pernah dilahirkannya, sebaiknya kamu mengunjung mereka besok “ tutur Fais mendekati Rara melihat sosok gadis yang ada dihadapannya cukup menderita sekian lama, mimpi selalu menghantui tidurnya entah karena apa? Apakah ini peringatan untuknya karena berusaha menjauh dari orang tuanya hingga dia sendiri tidak merasa tenang dalam hatinya.
Tiba-tiba kedua langkah kakinya berhenti dan terasa berat, saat menyadari dirinya saat ini hanya beberapa meter dari halaman rumahnya. Suasana yang tadinya sepi karena baru saja turun hujan begitu cepat ramai, satu persatu tetangga keluar rumah dan berkumpul, beginilah kehidupan dikampung ketika para ibu-ibu lebih cepat pergerakannnya saat menemukan hal-hal yang bisa menjadi cerita hangat buat mereka, para gadis remaja bergegas bergabung, Rara masih ingat gadis-gadis yang pernah menjadi murid-murid bohongan saat bermain sewaktu SMP kini tumbuh menjadi Remaja. Banyak sekali perubahan yang terjadi saat terakhir dia meninggalkan rumah ini tanpa pakaian kecuali yang melekat ditubuhnya serta uang yang lumayan banyak jumlahnya, tidak pernah di cari dan dipertanyakan oleh kedua orang tuanya maupun kakeknya, bersamaan itu pula terlihat jelas ayah dan ibunya berhamburan keluar menyambutnya, dengan wajah tersenyum seakan berabad-abad lamanya, mereka tidak pernah melihat anak gadis satu-satunya kini tumbuh tanpa pengawasannya. Rara masih berdiri di halaman rumah melihat kedua orang tuanya di atas bola aju (rumah panggung yang tiangnya berdiri sekitar satu meter atau lebih dan terdiri dari beberapa tiang untuk menopang).
“ayo”ujar Fais yang sejak tadi berdiri disampingnya menemani langkahnya menuju tangga, ia bahkan tidak sadar bahwa laki-laki itu masih terus menemaninya. Baru menaiki anak tangga kedua, ibunya sudah berlari tidak sabar memeluk Rara, ayahnya yang masih berdiri memperhatikannya terlihat bahagia menutupi wajah kasarnya yang tampak keriput, tidak lama kemudian ayahnya yang masih menggunakan sarung turun memeluk anak gadisnya itu. Tangis Rara kembali pecah sesaat dia berusaha menahannya menunggu reaksi kedua orang tuanya, beribu maaf terus terucap dibibirnya dan seakan semua yang terjadi saat ini hanya mimpi dan dia takut akan membuka matanya, takut kepada malaikat mimpi mempermainkannya lagi.Aku benar-benar berada diantara mereka.
Diruang tengah rumah orang tuanya yang tidak cukup luas, sudah berkumpul beberapa keluarga yang masih begitu diingat oleh Rara, hanya saja dia memiliki dua keponakan dari abangnya.
“laki-laki ini……………?” tunjuk abangnya kepada Fais mencoba mengingat sesuatu.
“kamu yang membawa Rara pergi kan…!” lanjut abangnya dia masih ingat saat mengejar adiknya Rara ketika diusir, laki-laki yang membawa Rara keluar dari kampungnya.
“kalian sudah menikah?”tanya abang lagi, menurunkan telunjuknya.
“kami akan segera menikah” ucapnya tiba-tiba melayangkan senyum pada Rara yang wajahnya pucat seketika mendengar lontaran mengejutkan dari Fais, dia tidak menyangka laki-laki yang berada disampingnya itu mengatakannya secara langsung didepan pertemuannya kembali dengan orang tuanya.
“Fais….”bisiknya pelan, dia hanya tersenyum dan cukup dengan senyumnya itu menjelaskan banyak hal pada Rara, tangannya begitu hangat karena genggaman tangan Fais yang sejak tadi sudah dirasakannya dan digenggamnya saat menaiki rumahnya. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan, banyak hal yang datang secara tiba-tiba terjadi pada kehidupan seseorang sebagai ujian dari pertengkaran batinnya. Begitu pula kehidupannya akan terjadi secara berlanjut.
1 januari 2014

makalah Bahan ajar bagi guru



Nama Dosen :  Aliem Bahri, S.Pd.,M.Pd

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR







KELOMPOK i

Susilo Setiawan   : 1053 3668 211                              Nur Eni        : 1053 3668 011
Asrul                    : 1053 3667 811                               Marwati Iji  : 1053 3668 111
Hasria.H             : 1053 3668 711                               Rini             : 1053 3668 411
Erna N                 : 1053 3667 711                               Abd Karim  : 1053 3668 511

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013

 


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai  kemampuan sesuai standard kompetensi lulusan, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning).
Pada pendidikan menengah umum, di samping buku-buku teks, juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet) dan bahan ajar lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar (teaching material).
Untuk pembelajaran yang bertujuan mencapai kompetensi sesuai profil kemampuan tamatan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diperlukan kemampuan guru untuk dapat mengembangkan yang tepat. Dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) diharapkan siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh, sesuai dengan kecepatan belajarnya. Untuk itu bahan ajar hendaknya disusun agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran mencapai  kompetensi.
Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda, yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana pengertian Sumber Belajar?
2.    Bagaimana pengertian Bahan Ajar?
3.    Bagaimana guru mengembangkan bahan ajar?
4.    Bagaimana tujuan dan manfaat bahan ajar?


C.  Tujuan Masalah
1.    Mengetahui pengertian sumber ajar
2.    Mengetahui pengertian bahan ajar
3.    Mengetahui bagaimana guru mengembangkan bahan ajar
4.    Mengetahu tujuan dan manfaat bahan ajar


























BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Sumber Belajar
Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), orang juga banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa  apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber belajar.  
Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum.  Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.
Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran, makalah, 2004)
Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.

Dengan demikian maka  sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. 
Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.    Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
2.    Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
3.    Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
4.    Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
5.    Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
6.    Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.

Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa.

B.  Pengertian Bahan Ajar
Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan.  
Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA  pada website-nya, WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning (Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif).
Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu: Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach. (Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.)
Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
1.    Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
2.    Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3.    Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Pendapat lain mengatakan sebagai berikut;
Definition of teaching material
They are the information, equipment and text for instructors that are     required for planning and review  upon training implementation.  Text and training equipment are included in the teaching material.( Anonim dalam Web-site. (Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.)
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.  Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.   (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training).
Pengelompokan bahan  ajar menurut Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut :
Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix. (Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif  terintegrasi  yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix.)
Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfunk), kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte).  Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung).  Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan gambar (Tonbildschau),dan film/video.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.  
Sebuah bahan ajar paling tidak  mencakup antara lain :
a.    Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b.    Kompetensi yang akan dicapai
c.    Content atau isi  materi pembelajaran
d.   Informasi pendukung
e.    Latihan-latihan
f.     Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g.    Evaluasi
h.    Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

C.  Mengapa guru perlu mengembangkan Bahan Ajar?
Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum,  karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standard kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi kurikulum.
Apabila bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak ada ataupun sulit diperoleh, maka membuat bahan belajar sendiri adalah suatu keputusan yang bijak. Untuk mengembangkan bahan ajar, referensi dapat diperoleh dari berbagai sumber baik itu berupa pengalaman ataupun pengetahauan sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang ahli ataupun teman sejawat. Demikian pula referensi dapat kita peroleh dari buku-buku, media masa, internet, dll. Namun demikian, kalaupun bahan yang sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan sendiri. Bagi siswa, seringkali bahan yang terlalu banyak membuat mereka bingung, untuk itu maka guru perlu membuat bahan ajar untuk menjadi pedoman bagi siswa.
Pertimbangan lain adalah karakteristik sasaran. Bahan ajar yang dikembangkan orang lain seringkali tidak cocok untuk siswa kita. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial, geografis, budaya, dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis, karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang keluarga dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran.
Selanjutnya, pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah ataupun kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang seringkali siswa sulit untuk memahaminya ataupun guru sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing, dsb. Untuk mengatasi kesulitan ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak gersebut, misalnya dengan penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dll. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir siswa, sehingga menjadi lebih mudah dipahami.

D.  Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar
1.    Tujuan
Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a.    Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa
b.    Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
c.    Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

2.    Manfaat
Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya.
Di samping itu, guru juga dapat memperoleh manfaat lain, misalnya tulisan tersebut dapat diajukan untuk menambah angka kredit ataupun dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.  Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.  Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.
BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
bahan ajar berfungsi sebagai:
1.    Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
2.    Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3.    Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.  Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.  Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.

B.  Saran






DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembanagan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. 2011. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar
Depdiknas 2008, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, Ditjen Manajemen Dikdasmen.
Thamrin, dan Rahman Rahim. 2012. Bunga Rampai Pembelajaran. Makassar: Membumi Publishing.
http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfapeople/peraya.html>http://