Rabu, 28 Agustus 2013

Makalah kajian Apresiasi prosa dan Fiksi



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Mempelajari karya sastra dalam kehidupan terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra Indonesia selalu mendapat perhatian lebih dari kalangan mahasiswa kebahasaan terutama pengajaran cerpen.dalam makalah kali ini pembahasan cerpen serta pendekatan yang digunakan akan dibahas selengkapnya agar pemahaman sastra terutama cerpen dapat serta merta di analisis  dengan seksama dan membantu mahasiswa mengetahui apa-apa saja yang terdapat dalam cerpen itu.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana cerpen itu?
b.      Macam-macam Cerpen?
c.       Bagaimana Apresiasi Cerpen?
d.      Bagaimana Pemaknaan lewat semiotika?
e.       Bagaimana pendekatan sastra?

C.     TUJUAN MASALAH
a.       Mengetahui apa itu cerpen?
b.      Mengetahui macam-macam Cerpen?
c.       Mengetahui bagaiman apresiasi cerpen?
d.      Mengetahui pemaknaan lewat semiotika?
e.       Mengetahui pendekatan sastra?



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Apa itu Cerpen
1.      Pengertian Cerpen
Cerpen adalah karangan sastra yang mengisahkan sisi problematika manusia tidak secara utuh. Hanya sebagian sisi problematika yang ditampilkan dalam cerpen. Sesua dengan nama dan tujuannya,cerpen hanya mengetehkan penggalan tragedy kehidupan manusia dari satu sudut pandang yang di anggap mempunyai nilai yang penting dan mendalam yang patut direnungkan.
Untuk menentukan sebuah karangan termasuk cerita pendek atau bukan maka kita lihat ciri-cirinya :
a.       Cerita pendek mengandung interpretasi pengarang tentang kehidupan, baik secara lanngsung atau tidak langsung.
b.      Dalam cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca dan juga harus menarik perhatian.
c.       Cerita pendek mengandung detail dan insiden yang dipilih dan dapat menimbulkan pertanyaan dalam pikiran pembaca.
d.      Cerita pendek menyajikan satu emosi saja.

2.      Unsur-unsur Cerpen

a.       Unsur Intrinsik Cerpen
a)      Tema
Tema adalah gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita,temakarangan fiksi semisal cerpen,umunya menyangkut dan mengangkat masalah-masalah kehidupan manusia,seperti masalah cinta,rumah tangga,penderitaan hidup,kebahagian,kegagalan dan sebagainya. Tema sebuah cerita yang ditengehkan cerpen dapat dilihat dari keseluruhan kisah yang ditampilkan di dalamnya.
b)      Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan logika sebab-akibat. Dalam sebuah cerita terdapat berbagai peristiwa-peristiwa itu tidak berdiri sendiri-sendiri,tetapi saling terkait antara peristiwa satu dengan pristiwa lai. Alur juga di sebut plot.ada beberapa model pengembangan cerita alur,yaitu :
-          Alur maju
Alur maju adalah model pengembangan cerita dengan cara awal-akhir atau sebab-akibat yang diceritakan secara kronololis/urut.proses pengembangannya yaitu cerita bergerak maju hingga sampai pada klimaks. Misalnya sebuah cerita di awali dengan peristiwa A dan di akhiri dengan peristiwa E,maka model ceritanya adalah A,b,C,D,sampai akhirnya menuju E.cerita model ini di bagian awal biasanya tidak seberapa menarik.tapi semakin lama cerita akan semakin menarik.
            Alur maju pada umumnya terdiri dari beberapa tahapan berdasarkan urutan kisahnya :
a)      Pendahuluan,merupakan paparan awal cerita pengarang mulai memperkenalkan tempat kejadian,waktu dan para tokoh.
b)      Penampilan masalah,pada tahapan ini konflik cerita dimulai ditampilkan.
c)      Puncak ketegangan.pada tahapan ini konflik memuncak hingga menjadi ruwet.tahapan ini sering disebut klimaks.
d)     Ketegangan menurun,pada tahap ini konflik mulai menurun. Emosi yang sebelumnya memuncak mulai reda.
e)      Penyelesaian,pada tahapan ini penyelesaian dapat dipaparkan oleh pengarang.disini pengarang memberikan solusi dari konflik yang terjadi.
-          Alur mundur
Alur mundur merupakan kebalikan dari alur maju. Dengan kata lain alur ini memakai cara akhir-awal atau akibar sebab. Gaya bertutur alur ini bergerak mundur kebelakang. Hal-hal yang menjadi akibat diketengahkan terlebih dahulu baru kemudian sebab-sebabnya di sampaikan. Cirri utama dari alur mundur ini,dibagian awal biasanya ceritanya dibuat menegangkan yang kemudian dibagian-bagian akhir model cerita mulai tidak seberapa menarik.
-          Alur maju-mundur
Alur maju mundur adalah merupakan perpaduan antara pengembangan maju dan mundur. Alur ini bisa dimulai dengan bergerak maju terlebih dahulu,namun sebelum sampai pada titik klimaks,aur berbalik haluan menjadi mundur,atau sebaliknya. Misalnya peristiwa dimulai dari A-E. maka model penyampaian ceritanya boleh jadi dimulai dari D ke E,kemudian dikembalikan dari A-B ke C.
Berdasarkan kualitas alur
1)      Alur tunggal.adalah alur yang hanya memiliki satu pengembangan cerita.
2)      Alur ganda adalah alur yang memiliki beberapa garis pengembangan cerita.
c)      Latar/setting
Latar atau setting meliputi tempat,waktu atau budaya masyarakat.unsur sastra yang menunjukkan kepada pembaca dimana peristiwa itu terjadi,kapan dan dalam konteks yang bagaimana semua itu terjadi.adapun latar suasana menerangkan bagaimana keadaan yang terjadi dalam cerita.
d)     Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang mengambarkan dan mengembangkan karakter tokoh yang ada dalam cerita.berdasarkan peranan yang ada dalam cerita,tokoh dibedakan menjadi empat macam yaitu :
-          Protagonist adalah peran utama yang merupakan pusat/sentral cerita.
-          Antagonis adalah peran lawan;ia sering menjadi musuh yang menyebabkan konflik    terjadi.
-          Tritagonis adalah peran penengah,bertugas menjadi pendamai atau perantara antara protogonis dengan antagonis.
-          Peran pembantu adalah peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi,tetapi diperlukan dalam penyelesaian cerita.
e)      Point of view
Point of view atau sudut pandang adalah posisi pengarang dalam cerita yang di tampilkan atau posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa dalam cerita.
f)       Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang. Pesan ini bisa berupa harapan,nasehat,kritik dan sebagainya.
b.      Unsure Ekstrinsik Cerpen
Unsure ekstrinsik adalah unsure yang membangun cerpen atau novel dari luar. Unsure ini ditentukan oleh keberadaan pengarang itu sendiri.unsur ini meliputi pendidikan pengarang,kebudayaan dimana pengarang hidup,agama,jenis kelamin dan riwayat hidup.
3.      Menyusun cerpen
Langkah-langkah menyusun cerpen diantaranya sebagai berikut :
a.       Menentukan tema
b.      Mengembangkan tema
c.       Membuat alur sketsa
d.      Menentukan karakter tokoh dan latar
e.       Mulai menulis cerita
f.       Meneliti dan merevisi.

B.     Macam-macam Cerpen
Cerita pendek dibagi dua :
a.       Short-short story (cerita pendek yang pendek) ialah cerita pendek yang jumlah kata-kataya di bawah lima ribu kata atau 16 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca sepermpat jam.
b.      Long shory story (cerita pendek yang panjang) ialah cerita pendek yang jumlah kata-katanya lima ribu,maksimun sepuh ribu kata atau 33 halaman kuarto spasi rangkap dan dibaca dalam waktu kira-kira setengah jam.
C.    Apresiasi Cerpen
Sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatan dengan menggunakan bahasa. Jika diteliti pengertian tersebut ada dua pernyataan yang menjelaskan istilah sastra.
-          Mengungkapkan penghayatan
-          Kegiatan kreatif
Mengungkapkan penghayatan menyiratkan bahwa sastra itu berawal dari penghayatan terhadap sesuatu yang kemudian diungkapkan dengan bahasa. Penghayatan itu bisa terhadap benda-benda,atau hal lain termasuk karya sastra lain “mengungkapkan penghayatan” yang menghasilkan karya sastra diperlukan kreatifitas. Tanpa kreatifitas tidak akan lahir karya seni.
Apresiasi sastra adalah kegiatan untuk mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Di dalam mengakrabi terjadi proses pengenalan,pmahaman, penghayatan dan setelah penerapan.
Dalam proses pengenalan,penonton atau membaca akan mulai menemukan ciri-ciri umum yang tampak,misalnya kita sudah mengenal judul,pengarang,atau bentuk karya sastra umum.
Pemahaman kadang apresiator mudah untuk memahami kadang pula sulit. Jika hal ini terjadi perlu di tempuh upaya untuk mencapainya. Umpamanya dalam memahami puisi terlebih dahulu dicari  penjelasan kata-kata yang sulit, membubuhkan tanda penghubung,membubuhkan tanda baca. Dengan demikian pemahaman akan tercapai.
Proses penghayatan dapat dilihat dari indicator yang dialami pembaca atau penonton(apresiator).umpamanya saat kita membaca novel.ketika membaca lalu merenung,kemungkinan timbul perasaan sedih,gunda dan iba dan seakan-akan menyaksikan tayangan TransTv acara Ekstravangansa,tanpa sadar kita terpingkal-terpingkal tertawa karena kelucuan tokoh-tokohnya menyaksikan banyolan di layar tancap,parody yang digelar oleh anak-anak teater.
Apabila kita merasakan sedih, gembira atau apa saja karena rangsangan bacaan atau di tontonan tersebut seolah-olah kita mendengar,melihat sesuatu. Hal ini terjadi,berarti kita sebagai apresiator sudah terlibat dengan karya yang sedang diapresiainya itu.
Proses penikmatan timbul karena merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain,yaitu bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik : menikmati sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetis. Indicator wilayah penikmatan kita dapat bertanya kepada diri sendiri : sudah saya menemukan pengalaman pengarang?jika jawabnya ya coba gambarkan bagaimana proses penemuan itu. Mungkin anda tersentuh dengan latar suatu cerita,umpamanya roman atheis (andan sudah mengenal bandung) merasa nikmat ketika pengarang melukiskan bagaimana indahnya kota Bandung pada masa itu dengan delman,gadis-gadis yang berkebaya dan berpayung, serta latar yang sejuk dan rimbun dengan pepohonan. Selain rasa kagum yang sejuk dan rimbun dengan pepohonan. Selain rasa kagum anda terlepas dari beban,merasa ada teman,karena nilai-nilai yang ditemukan sebagai penikmatan tersebut.
Penerapan,penerapan merupakan wujud perubahan sikap yang timbul sebagai temuan nilai. Apresiator yang telah menemukan/merasakan kenikmatan, menfaatkan temuan tersebut dalam wujud nyata perubahan sikap dalam dunia nyata,perubahan sikap dalam kehidupan. Apresiator mendapat manfaat langsung dari bacaan tersebut.
Langkah-langkah dan tingkat apresiasi itu antara lain
1.      Tingkat pertama terjadi apabila seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam sebuah karya. Ia terlibat secara intelektual,emosianal,imajinatif dengan karya sastra.
2.      Tingkat kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja telah mampu menemukan ada tidaknya hubungan antara karya yang dibacanya dengan kehidupan.
D.    Pemaknaan Lewat Semiotika
Semiotika atau studi tentang sistem lambang pada dasarnya merupakan lanjutan dari strukturalisme. Sebab itulah semiotika sering juga disebut strukturalisme semiotic. Dua pertanyaan penting sehubungan dengan penerapan semiotika dalam analisis teks sastra adalah : apakah sastra itu mengandung sistem lambang?bila mengandung sistem lambang, bagaimanakah perbedaannya dengan sistem lambang yang ada di luar teks sastra tersebut?.
Bagi semiotika, teks sastra sebagai realitas yang dihadirkan dihadapan pembaca. Di dalamnya pastilah sudah ada potensi komunikasi. Pemilihan potensi komunikatif itu salah satunya ditandai dengan digunakannya lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa komunikasi keseharian komunikasi pada umumnya, lambang yang terdapat dalam teks sastra adalah lambang yang sifatnya artistic. Bila lambang dalam bahasa sehari-hari itu bersifat natural sastra hadir dengan didahului oleh motivasi subjektif pengarangnya sehingga lebih banyak bersifat “arbitret”.
Lambang kebahasaan dalam teks sastra sebagai sesuatu yang hadir lewat motivasi subjek pengarang,pemaknaannya dengan demikian juga menunjuk pada sesuatu yang lain diluar stuktur yang terdapat dalam teks sastra itu sendiri. Unsure luar yang ditunjuk itulah,upaya pemahaman terhadapnya pun sangat beragam. Akan tetapi sesuai dengan terdapat empat dimensi dalam tek sastra yakni ;
1.      Sastra sebagai kreasi ekspresi
2.      Sastra sebagai pemapar realitas
3.      Sastra sebagai kreasi penciptaan yang menggunakan media berupa bahasa
4.      Sastra sebagai teks yang memiliki potensi kumunikasi dengan pembaca dalam upaya memahami lambang tersebut terdapat empat pendekatan menurut Teew telah memadai untuk digunakan. Pendekatan itu meliputi ;
1)      Pendekatan ekspretif
2)      Pendekatan mimesis
3)      Pendekatan objektif
4)      Pendekatan pragmatis
Pendekatan ekspretif adalah pendekatan yang mengutamakan pada peranan penyair sebagai subjek ekspresi. Dalam pendekatan ini nilasi sastra dikembalikan pada kedalaman emosi serta suasana batin penyair. Pendekatan ekspretif pada dasarnya dasarnya memiliki peranan menonjol pada masa romantic. Words-worth misalanya mengunkapkan bahwa poetry is the spontaneous overflow of powerful feelings. Sedangkan pendekatan mimesis menekankan adanya hubungan dengan dunia nyata.
Dalam pendekatan objektif  seseorang hanya melihat pada karya itu sendiri lepas dari dunia nyata, pengarang maupun pembaca. Dalam pendekatan ini , menurut Teew, karya seni harus dihadapi sebagai unified whole.sebagai suatu totalitas yang heterokosmes,sementara pendekatan pragmatis adalah pendekatan yang ditekankan pada adanya fungsi yang diberikan oleh teks sastra itu sendiri kepada pembaca.
Dalam pemaknaan lebih lanjut masih dibedakan antara :
1.      Denotation yakni bila lambang itu menjadi gambar dari sesuatu yang dilambangkan sendiri.
2.      Connotation, yakni bila lambang itu masih mengasosiasikan adanya hubungan makna yang dikandung oleh lambang yang lain. Dalam puisi, makna tersebut terproduksi lewat kode yang bersistem, akan tetapi seperti yang diungkapkan lokman, sistem kode dalam puisi maupun cerpen tidak hanya berkaitan dengan masalah kebahasaan,tetapi juga berkaitan dengan kode. Dengan demikian dalam puisi atau cerpen terdapat sistem dari sistem serta relasi dari relasi. Hal itu sebenarnya dapat juga dianalogikan dengan terdapatnya struktur kongkret dan struktur abstrak seperti telah dipaparkan di depan.
Dalam pemaknaannya,ragam tanda yang sulit ditentukan maknanya adalah symbol. Disebut sulit karena symbol merupakan bentuk yang isian maknanya sudah dimotivasi oleh unsure subjektif pengarangnya. Selain itu symbol, isian maknanya juga telah bersifat konotatif apabila icon,pemaknaannya cukup dilihat dari kamus atau lewat kehidupan sehari-hari, pemaknaan indice dapat diidentifikasi lewat konteks struktur kalimat maupun wacana, maka lewat kedua cara atas, juga harus memperhatikan unsure psikologis,sosiologis maupun kesejarahan.pemaknaan model berakhir itu mungkin juga tidak perlu dilaksanakan karena seperti yang diungkapkan oleh ullman,pemakaian symbol tidak sepenuhnya bersifat arbitret. Karakteristik realitas yang memiliki fungsi simbolik sering disimbolkan sehingga gagasan yang ada dengan mudah dapat diproyeksikan,
Pengembalian lambang kedalam konteks sosial budaya serta rangka kesejarahan itulah yang sebenarnya juga merupakan perbedaan tajam antara semiotika dengan strukturalisme klasik. Konteks analisis makna dan strukturalisme, seperti diungkapkan Scholes hanyalah dibatasi pada teks sastra dengan berbagai unsur intrinsiknya pembangunnya. Unsur intrinsic yang akhirnya membangun suatu struktur secara total dan simultan bagi strukturalisme adaah satu-satunya bentuk objektif yang mungkin dimaknai sedangkan meletakkan struktur sebagainya satu-satunya objek pemaknaan yang paling mungkin, justru menjadikan bentuk dalam teks sastra sebagai fakta dan statis.


E.     pendekatan apresiasi sastra
1.      pendekatan parafratis       
pengertian pendekatan parafrais adalah strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan mengunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan akhir kata dari penggunaan parafratis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih muda memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.
Seperti telah diketahui, kata-kata dalam cipta sastra umumnya padat dan sublimatif, misalnya seorang penyair yang ingin menyampaikan gagasan tentang betapa cepatnya perjalanan kehidupan serta betapa singkatnya kehidupan manusia itu sendiri yang pada sisi lain juga akan segera membebaskan manusia dari libatan keduniawian ini,dirinya cukup mengungkapkan dengan jam mengerdip, tak terduga betapa lekasnya siang menepi,melapangkan jalan dunia. Dari contoh itu juga dapat diketahui bahwa kalimat atau baris dalam puisi sering mengalami elispsis atau penghilangan suatu unsure, baik berupa kata ataupun kelompok kata.begitu juga cara penulisannya, umumnya tidak sama dengan aturan atau sistem penulisan pada umumnya. Misalnya jika daam kalimat itu seseorang harus mengawalinya dengan huruf besar dan selamanya di laksanakan. Hal itu memang sesuai hak kepenyairan yang disebut dnegan hak licentia poetica.
Prinsip dasar penerapan pendekatan parafratis pada hakikatnya berangkat dari pemikiran bahwa.
a.       Gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk berbeda
b.      Symbol-simbol yang bersifat kinotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna
c.       Kalimat-kalimat dalam baris dalam suatu cipta sastra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi kebentuk dasarnya
d.      Pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang simbolik dan eliptis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan.
e.       Pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri.
Dari prinsip dasar pada butir 5 itu dapat disimpulkan juga bahwa penerapan pendekatan parafratis selain intuk mempermudah upaya pemahaman makna suatu bacaaan  juga digunakan untuk mempertajam,memperluas dan melengkapi pemahaman makna yang diperoleh pembaca itu sendiri.sebab itu nZ dalam pelaksanaannya nanti pendekatan parafratis ini selain dapat dilaksanakan pada awal kegiatan mengapresiasi sastra juga dapat dilaksanakan setelah kegiatan apresiasi berlangsung.
2.      Pendekatan emotif
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsure-unsur yang mengajukan emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi berhubungan dengan isi gagasan yang lucu dan menarik.
Prinsip-prinsip dasar yang melatar belakangi adanya pendekatan emotif ini adalah pandangan bahwa cipta sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu menemukan unsure-unsur keidndahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra.
Sebab itulah dalam pelaksanaan pendekatan emotif ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang : adakah unsure-unsur dalam karya cipta sastra yang akan saya abaca ini ? bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu? Dan bagaimana wujud keindahan itu sendiri setelah digambarkan pengarangnya? Bagaimana cara pembaca menemukan keindahan sastra itu ? serta berapa banyak keindahan itu ditemukan?.
Selain berhubungan dengan masalah keindahan yang ebih lanjut akan berhubungan dengan masalah gaya bahasa seperti metaphor,simile maupun penataan setting yang mampu menghasilkan panorama yang menarik.penikmatan keindahan itu juga dapat berhubungan dengan penyampaian cerita,peristiwa maupun gagasan tertentu yang lucu dan menarik  sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan kepada pembaca.
3.      Pendekatan Analitis
Sebuah berhadapan dengan sebuah cipta sastra,pembaca dapat menampilkan pertanyaan : unsure-unsur apakah yang membangun cipta sastra yang saya baca ini ? bagaimana unsure-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangya?bagaimana peranan setiap unsure itu dan bagaimana hubungan antara unsure yang satu dengan lainnya ? dan bagaimana caranya memahaminya?jika pembaca berusaha mencari jawaban darin keseluruhan pertanyaan itu pada dasarnya pembaca telah melaksanakan atau menerapkan pendekatan analitis.
            Pendekatan analitis adalah itu sendiri adalah suatu pendekatan ysng berusaha memahami gagasan,cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam dalam menampilkan gagasannya,elemen instrintik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen instrintik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.
            Penerapan pendekatan analitis itu pada dasarnya akan menolong pembaca dalam upaya mengenal unsure-unsur intrinsic sastra  yang secara actual telah berada dalam suatu cipta sastra dan bukan dalam rumusan-rumusan atau definisi seperti yang terdapat dalam kajian teori sastra.selain itu pembaca juga dapat memahami bagaimana funsi setiap elemen cipta sastra dalam rangka membangun analitis ini adalah.lewat penerapan pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari  bahwa ciptas sastra pada dasarnya diwujudkan lewat kegiatan yang serius dan terencana  sehingga tertanamlah rasa penghargaan atau sikap yang baik terhadap karya sastra.
Dalam kehadiran pendekatan analitis ini, prinsip dasar yang melatarbelakangi adalah anggapan bahwa :
1.      Cipta sastra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu.
2.      Setiap elemen dalam cipta sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa  memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya meskipun karakteristik masing-masing berbeda
3.      Dari adanya cirri-cirinya karakteristik setiap elemen yang satu dengan elemen yang lainnya,pada awalnya dapat dibahas secara terpisah meskipun pada akhirnya setiap elemen itu harus disikapi sebagai suatu kesatuan.
Dalam pelaksanaannya, penerapan pendekatan ini adalah analitis ini diawali dengan kegiatan membaca teks secara keseluruhan. Setelah itu pembaca menampilkan beberapa pertanyaan yang berhubunganb dengan unsure-unsur instrintik  yang membangun cipta sastra yang dibacanya.misalnya sewaktu membaca mengapresiasi salah satu judul cerpen,lewat judul cerpen yang dibacanya itu,setelah melaksanakan kegiatan baca terhadap keseluruhan cerpen itu secara skimming,pembaca lebih lanjut menampilkan pertanyaan-pertanyaan misalnya bagaimana tokoh dan pertanyaan perwatakan setiap tokoh dan pertanyaan tentang unsure instrintik lain yang terdapat dalam cerpen itu. Setelah itu pembaca kembali membaca ulang sambil berusaha menganalisis setiap unsure yang setelah ditetapkannya.
Dari hasil analisis setiap unsur, pembaca lebih lanjut berusaha memahami bagaiman mekanisme hubungannya. Lewat mekanisme hubungan ini lebih lanjut pembaca menganalisis bagaimana fungsi setiap elemen itu dalam rangka mewujudkan suatu cipta sastra.
Dalam pelaksanaannya,kegiatan analisis itu tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra. Dalam hal ini pembaca dapat membatasi diri pada analisis unsure kebahasaan seperti yang dilaksanakan dalam pendekatan atau text grammar. Dapat disadari misalnya kita berhadapan dengan roman siti nurbaya yang begitu tebal dan melaksanakan kegiatan analisis pada seluruh elemen pendukungnya. Maka halnya nanti sebaiknya anda memilih cipta sastra yang tidak begitu panjang,misalnya cerpen atau puisi.
Kegiatan mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analisis ini dapat dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam menerapkan pendekatan itu pembaca harus berangkat dari landasan teori tertentu bersifat objektif dan harus mewujudkan hasil analisis yang tepat,sistematis dan diakui kebenarannya oleh umum. Metode kerja demikian itu dapat disamakan dengan metode kerja pada linguis dalam upayanya menerapkan metode deskriptif yang bersifat eksas dalam rangka menelaah aspek kebahasaan dalam cipta sastra. Sebab itulah dalam pelaksanaan nanti,apresiator dapat saja menggunakan bagan,tabel maupun formulasi atau rumus-rumus seperti yang digunakan dalam ilmu eksakta.











BAB III
PENUTUP

a.       Simpulan
Memahami karya sastra serta menganalis suatu karya sastra terutama cerpen selalu menarik untuk dikaji,selain ceritanya yang pendek serta alur yang mudah,memudahkan para sastrawan menganalisis sebuah karya sastra selain itu pemaknaan lewat semiotika atau lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa komunikasi keseharian komunikasi pada umumnya, lambang yang terdapat dalam teks sastra adalah lambang yang sifatnya artistic.


DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, 2011,Pengantar apresiasi karya sastra,Malang : Sinar Baru Algesindo.
Azis,siti Aida,2011,Apresiasi dan Kajian prosa Fiksi.Surabaya : Bintang Surabaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar