BAB
1
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Mempelajari
karya sastra dalam kehidupan terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra
Indonesia selalu mendapat perhatian lebih dari kalangan mahasiswa kebahasaan
terutama pengajaran cerpen.dalam makalah kali ini pembahasan cerpen serta
pendekatan yang digunakan akan dibahas selengkapnya agar pemahaman sastra
terutama cerpen dapat serta merta di analisis
dengan seksama dan membantu mahasiswa mengetahui apa-apa saja yang
terdapat dalam cerpen itu.
B. RUMUSAN
MASALAH
a. Bagaimana
cerpen itu?
b. Macam-macam
Cerpen?
c. Bagaimana
Apresiasi Cerpen?
d. Bagaimana
Pemaknaan lewat semiotika?
e. Bagaimana
pendekatan sastra?
C. TUJUAN
MASALAH
a. Mengetahui
apa itu cerpen?
b. Mengetahui
macam-macam Cerpen?
c. Mengetahui
bagaiman apresiasi cerpen?
d. Mengetahui
pemaknaan lewat semiotika?
e. Mengetahui
pendekatan sastra?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Apa itu Cerpen
1. Pengertian
Cerpen
Cerpen
adalah karangan sastra yang mengisahkan sisi problematika manusia tidak secara
utuh. Hanya sebagian sisi problematika yang ditampilkan dalam cerpen. Sesua
dengan nama dan tujuannya,cerpen hanya mengetehkan penggalan tragedy kehidupan
manusia dari satu sudut pandang yang di anggap mempunyai nilai yang penting dan
mendalam yang patut direnungkan.
Untuk
menentukan sebuah karangan termasuk cerita pendek atau bukan maka kita lihat ciri-cirinya
:
a. Cerita
pendek mengandung interpretasi pengarang tentang kehidupan, baik secara
lanngsung atau tidak langsung.
b. Dalam
cerita pendek harus menimbulkan satu efek dalam pikiran pembaca dan juga harus
menarik perhatian.
c. Cerita
pendek mengandung detail dan insiden yang dipilih dan dapat menimbulkan
pertanyaan dalam pikiran pembaca.
d. Cerita
pendek menyajikan satu emosi saja.
2. Unsur-unsur
Cerpen
a. Unsur
Intrinsik Cerpen
a) Tema
Tema
adalah gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita,temakarangan fiksi semisal
cerpen,umunya menyangkut dan mengangkat masalah-masalah kehidupan
manusia,seperti masalah cinta,rumah tangga,penderitaan
hidup,kebahagian,kegagalan dan sebagainya. Tema sebuah cerita yang ditengehkan
cerpen dapat dilihat dari keseluruhan kisah yang ditampilkan di dalamnya.
b) Alur
Alur
adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita
berdasarkan logika sebab-akibat. Dalam sebuah cerita terdapat berbagai peristiwa-peristiwa
itu tidak berdiri sendiri-sendiri,tetapi saling terkait antara peristiwa satu
dengan pristiwa lai. Alur juga di sebut plot.ada beberapa model pengembangan
cerita alur,yaitu :
-
Alur maju
Alur
maju adalah model pengembangan cerita dengan cara awal-akhir atau sebab-akibat
yang diceritakan secara kronololis/urut.proses pengembangannya yaitu cerita
bergerak maju hingga sampai pada klimaks. Misalnya sebuah cerita di awali
dengan peristiwa A dan di akhiri dengan peristiwa E,maka model ceritanya adalah
A,b,C,D,sampai akhirnya menuju E.cerita model ini di bagian awal biasanya tidak
seberapa menarik.tapi semakin lama cerita akan semakin menarik.
Alur maju pada umumnya terdiri dari
beberapa tahapan berdasarkan urutan kisahnya :
a) Pendahuluan,merupakan
paparan awal cerita pengarang mulai memperkenalkan tempat kejadian,waktu dan
para tokoh.
b) Penampilan
masalah,pada tahapan ini konflik cerita dimulai ditampilkan.
c) Puncak
ketegangan.pada tahapan ini konflik memuncak hingga menjadi ruwet.tahapan ini
sering disebut klimaks.
d) Ketegangan
menurun,pada tahap ini konflik mulai menurun. Emosi yang sebelumnya memuncak
mulai reda.
e) Penyelesaian,pada
tahapan ini penyelesaian dapat dipaparkan oleh pengarang.disini pengarang
memberikan solusi dari konflik yang terjadi.
-
Alur mundur
Alur
mundur merupakan kebalikan dari alur maju. Dengan kata lain alur ini memakai
cara akhir-awal atau akibar sebab. Gaya bertutur alur ini bergerak mundur
kebelakang. Hal-hal yang menjadi akibat diketengahkan terlebih dahulu baru
kemudian sebab-sebabnya di sampaikan. Cirri utama dari alur mundur ini,dibagian
awal biasanya ceritanya dibuat menegangkan yang kemudian dibagian-bagian akhir
model cerita mulai tidak seberapa menarik.
-
Alur maju-mundur
Alur
maju mundur adalah merupakan perpaduan antara pengembangan maju dan mundur.
Alur ini bisa dimulai dengan bergerak maju terlebih dahulu,namun sebelum sampai
pada titik klimaks,aur berbalik haluan menjadi mundur,atau sebaliknya. Misalnya
peristiwa dimulai dari A-E. maka model penyampaian ceritanya boleh jadi dimulai
dari D ke E,kemudian dikembalikan dari A-B ke C.
Berdasarkan
kualitas alur
1) Alur
tunggal.adalah alur yang hanya memiliki satu pengembangan cerita.
2) Alur
ganda adalah alur yang memiliki beberapa garis pengembangan cerita.
c) Latar/setting
Latar
atau setting meliputi tempat,waktu atau budaya masyarakat.unsur sastra yang
menunjukkan kepada pembaca dimana peristiwa itu terjadi,kapan dan dalam konteks
yang bagaimana semua itu terjadi.adapun latar suasana menerangkan bagaimana
keadaan yang terjadi dalam cerita.
d) Penokohan
Penokohan
adalah cara pengarang mengambarkan dan mengembangkan karakter tokoh yang ada
dalam cerita.berdasarkan peranan yang ada dalam cerita,tokoh dibedakan menjadi
empat macam yaitu :
-
Protagonist adalah peran utama yang
merupakan pusat/sentral cerita.
-
Antagonis adalah peran lawan;ia sering
menjadi musuh yang menyebabkan konflik
terjadi.
-
Tritagonis adalah peran
penengah,bertugas menjadi pendamai atau perantara antara protogonis dengan
antagonis.
-
Peran pembantu adalah peran yang tidak
secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi,tetapi diperlukan dalam
penyelesaian cerita.
e)
Point of view
Point
of view atau sudut pandang adalah posisi pengarang dalam cerita yang di
tampilkan atau posisi pengarang terhadap peristiwa-peristiwa dalam cerita.
f) Amanat
Amanat
adalah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang. Pesan ini bisa berupa
harapan,nasehat,kritik dan sebagainya.
b. Unsure
Ekstrinsik Cerpen
Unsure
ekstrinsik adalah unsure yang membangun cerpen atau novel dari luar. Unsure ini
ditentukan oleh keberadaan pengarang itu sendiri.unsur ini meliputi pendidikan
pengarang,kebudayaan dimana pengarang hidup,agama,jenis kelamin dan riwayat
hidup.
3. Menyusun
cerpen
Langkah-langkah
menyusun cerpen diantaranya sebagai berikut :
a. Menentukan
tema
b. Mengembangkan
tema
c. Membuat
alur sketsa
d. Menentukan
karakter tokoh dan latar
e. Mulai
menulis cerita
f. Meneliti
dan merevisi.
B. Macam-macam Cerpen
Cerita
pendek dibagi dua :
a. Short-short
story (cerita pendek yang pendek) ialah cerita pendek yang jumlah kata-kataya
di bawah lima ribu kata atau 16 halaman kuarto spasi rangkap dan dapat dibaca
sepermpat jam.
b. Long
shory story (cerita pendek yang panjang) ialah cerita pendek yang jumlah
kata-katanya lima ribu,maksimun sepuh ribu kata atau 33 halaman kuarto spasi
rangkap dan dibaca dalam waktu kira-kira setengah jam.
C.
Apresiasi
Cerpen
Sastra
adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatan dengan
menggunakan bahasa. Jika diteliti pengertian tersebut ada dua pernyataan yang
menjelaskan istilah sastra.
-
Mengungkapkan penghayatan
-
Kegiatan kreatif
Mengungkapkan
penghayatan menyiratkan bahwa sastra itu berawal dari penghayatan terhadap
sesuatu yang kemudian diungkapkan dengan bahasa. Penghayatan itu bisa terhadap
benda-benda,atau hal lain termasuk karya sastra lain “mengungkapkan
penghayatan” yang menghasilkan karya sastra diperlukan kreatifitas. Tanpa
kreatifitas tidak akan lahir karya seni.
Apresiasi
sastra adalah kegiatan untuk mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Di
dalam mengakrabi terjadi proses pengenalan,pmahaman, penghayatan dan setelah
penerapan.
Dalam
proses pengenalan,penonton atau membaca akan mulai menemukan ciri-ciri umum
yang tampak,misalnya kita sudah mengenal judul,pengarang,atau bentuk karya
sastra umum.
Pemahaman
kadang apresiator mudah untuk memahami kadang pula sulit. Jika hal ini terjadi
perlu di tempuh upaya untuk mencapainya. Umpamanya dalam memahami puisi
terlebih dahulu dicari penjelasan
kata-kata yang sulit, membubuhkan tanda penghubung,membubuhkan tanda baca.
Dengan demikian pemahaman akan tercapai.
Proses
penghayatan dapat dilihat dari indicator yang dialami pembaca atau
penonton(apresiator).umpamanya saat kita membaca novel.ketika membaca lalu
merenung,kemungkinan timbul perasaan sedih,gunda dan iba dan seakan-akan
menyaksikan tayangan TransTv acara Ekstravangansa,tanpa sadar kita
terpingkal-terpingkal tertawa karena kelucuan tokoh-tokohnya menyaksikan
banyolan di layar tancap,parody yang digelar oleh anak-anak teater.
Apabila
kita merasakan sedih, gembira atau apa saja karena rangsangan bacaan atau di
tontonan tersebut seolah-olah kita mendengar,melihat sesuatu. Hal ini
terjadi,berarti kita sebagai apresiator sudah terlibat dengan karya yang sedang
diapresiainya itu.
Proses
penikmatan timbul karena merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang
lain,yaitu bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan
lebih baik : menikmati sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetis. Indicator
wilayah penikmatan kita dapat bertanya kepada diri sendiri : sudah saya
menemukan pengalaman pengarang?jika jawabnya ya coba gambarkan bagaimana proses
penemuan itu. Mungkin anda tersentuh dengan latar suatu cerita,umpamanya roman
atheis (andan sudah mengenal bandung) merasa nikmat ketika pengarang melukiskan
bagaimana indahnya kota Bandung pada masa itu dengan delman,gadis-gadis yang
berkebaya dan berpayung, serta latar yang sejuk dan rimbun dengan pepohonan.
Selain rasa kagum yang sejuk dan rimbun dengan pepohonan. Selain rasa kagum
anda terlepas dari beban,merasa ada teman,karena nilai-nilai yang ditemukan
sebagai penikmatan tersebut.
Penerapan,penerapan
merupakan wujud perubahan sikap yang timbul sebagai temuan nilai. Apresiator
yang telah menemukan/merasakan kenikmatan, menfaatkan temuan tersebut dalam
wujud nyata perubahan sikap dalam dunia nyata,perubahan sikap dalam kehidupan.
Apresiator mendapat manfaat langsung dari bacaan tersebut.
Langkah-langkah
dan tingkat apresiasi itu antara lain
1. Tingkat
pertama terjadi apabila seseorang mengalami pengalaman yang ada dalam sebuah
karya. Ia terlibat secara intelektual,emosianal,imajinatif dengan karya sastra.
2. Tingkat
kedua terjadi apabila daya intelektual pembaca bekerja telah mampu menemukan
ada tidaknya hubungan antara karya yang dibacanya dengan kehidupan.
D.
Pemaknaan
Lewat Semiotika
Semiotika
atau studi tentang sistem lambang pada dasarnya merupakan lanjutan dari
strukturalisme. Sebab itulah semiotika sering juga disebut strukturalisme
semiotic. Dua pertanyaan penting sehubungan dengan penerapan semiotika dalam
analisis teks sastra adalah : apakah
sastra itu mengandung sistem lambang?bila mengandung sistem lambang,
bagaimanakah perbedaannya dengan sistem lambang yang ada di luar teks sastra
tersebut?.
Bagi
semiotika, teks sastra sebagai realitas yang dihadirkan dihadapan pembaca. Di
dalamnya pastilah sudah ada potensi komunikasi. Pemilihan potensi komunikatif
itu salah satunya ditandai dengan digunakannya lambang-lambang yang digunakan
dalam bahasa komunikasi keseharian komunikasi pada umumnya, lambang yang
terdapat dalam teks sastra adalah lambang yang sifatnya artistic. Bila lambang
dalam bahasa sehari-hari itu bersifat natural sastra hadir dengan didahului
oleh motivasi subjektif pengarangnya sehingga lebih banyak bersifat “arbitret”.
Lambang
kebahasaan dalam teks sastra sebagai sesuatu yang hadir lewat motivasi subjek
pengarang,pemaknaannya dengan demikian juga menunjuk pada sesuatu yang lain
diluar stuktur yang terdapat dalam teks sastra itu sendiri. Unsure luar yang
ditunjuk itulah,upaya pemahaman terhadapnya pun sangat beragam. Akan tetapi
sesuai dengan terdapat empat dimensi dalam tek sastra yakni ;
1. Sastra
sebagai kreasi ekspresi
2. Sastra
sebagai pemapar realitas
3. Sastra
sebagai kreasi penciptaan yang menggunakan media berupa bahasa
4. Sastra
sebagai teks yang memiliki potensi kumunikasi dengan pembaca dalam upaya
memahami lambang tersebut terdapat empat pendekatan menurut Teew telah memadai
untuk digunakan. Pendekatan itu meliputi ;
1) Pendekatan
ekspretif
2) Pendekatan
mimesis
3) Pendekatan
objektif
4) Pendekatan
pragmatis
Pendekatan ekspretif adalah
pendekatan yang mengutamakan pada peranan penyair sebagai subjek ekspresi.
Dalam pendekatan ini nilasi sastra dikembalikan pada kedalaman emosi serta
suasana batin penyair. Pendekatan ekspretif pada dasarnya dasarnya memiliki
peranan menonjol pada masa romantic. Words-worth misalanya mengunkapkan bahwa poetry is the spontaneous overflow of
powerful feelings. Sedangkan pendekatan mimesis menekankan adanya hubungan
dengan dunia nyata.
Dalam
pendekatan objektif seseorang hanya melihat pada karya itu sendiri
lepas dari dunia nyata, pengarang maupun pembaca. Dalam pendekatan ini ,
menurut Teew, karya seni harus dihadapi sebagai unified whole.sebagai suatu totalitas yang heterokosmes,sementara pendekatan pragmatis adalah pendekatan yang
ditekankan pada adanya fungsi yang diberikan oleh teks sastra itu sendiri
kepada pembaca.
Dalam
pemaknaan lebih lanjut masih dibedakan antara :
1.
Denotation
yakni
bila lambang itu menjadi gambar dari sesuatu yang dilambangkan sendiri.
2.
Connotation,
yakni
bila lambang itu masih mengasosiasikan adanya hubungan makna yang dikandung
oleh lambang yang lain. Dalam puisi, makna tersebut terproduksi lewat kode yang
bersistem, akan tetapi seperti yang diungkapkan lokman, sistem kode dalam puisi
maupun cerpen tidak hanya berkaitan dengan masalah kebahasaan,tetapi juga
berkaitan dengan kode. Dengan demikian dalam puisi atau cerpen terdapat sistem
dari sistem serta relasi dari relasi. Hal itu sebenarnya dapat juga
dianalogikan dengan terdapatnya struktur kongkret dan struktur abstrak seperti
telah dipaparkan di depan.
Dalam
pemaknaannya,ragam tanda yang sulit ditentukan maknanya adalah symbol. Disebut
sulit karena symbol merupakan bentuk yang isian maknanya sudah dimotivasi oleh
unsure subjektif pengarangnya. Selain itu symbol, isian maknanya juga telah
bersifat konotatif apabila icon,pemaknaannya cukup dilihat dari kamus atau
lewat kehidupan sehari-hari, pemaknaan indice
dapat diidentifikasi lewat konteks struktur kalimat maupun wacana, maka
lewat kedua cara atas, juga harus memperhatikan unsure psikologis,sosiologis
maupun kesejarahan.pemaknaan model berakhir itu mungkin juga tidak perlu
dilaksanakan karena seperti yang diungkapkan oleh ullman,pemakaian symbol tidak
sepenuhnya bersifat arbitret. Karakteristik realitas yang memiliki fungsi
simbolik sering disimbolkan sehingga gagasan yang ada dengan mudah dapat
diproyeksikan,
Pengembalian
lambang kedalam konteks sosial budaya serta rangka kesejarahan itulah yang
sebenarnya juga merupakan perbedaan tajam antara semiotika dengan
strukturalisme klasik. Konteks analisis makna dan strukturalisme, seperti
diungkapkan Scholes hanyalah dibatasi pada teks sastra dengan berbagai unsur
intrinsiknya pembangunnya. Unsur intrinsic yang akhirnya membangun suatu
struktur secara total dan simultan bagi strukturalisme adaah satu-satunya
bentuk objektif yang mungkin dimaknai sedangkan meletakkan struktur sebagainya
satu-satunya objek pemaknaan yang paling mungkin, justru menjadikan bentuk
dalam teks sastra sebagai fakta dan statis.
E.
pendekatan
apresiasi sastra
1. pendekatan
parafratis
pengertian
pendekatan parafrais adalah strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu
cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan
pengarang dengan mengunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan
kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan akhir kata dari
penggunaan parafratis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau
kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih muda memahami kandungan makna
yang terdapat dalam suatu cipta sastra.
Seperti
telah diketahui, kata-kata dalam cipta sastra umumnya padat dan sublimatif,
misalnya seorang penyair yang ingin menyampaikan gagasan tentang betapa
cepatnya perjalanan kehidupan serta betapa singkatnya kehidupan manusia itu
sendiri yang pada sisi lain juga akan segera membebaskan manusia dari libatan
keduniawian ini,dirinya cukup mengungkapkan dengan jam mengerdip, tak terduga
betapa lekasnya siang menepi,melapangkan jalan dunia. Dari contoh itu juga
dapat diketahui bahwa kalimat atau baris dalam puisi sering mengalami elispsis
atau penghilangan suatu unsure, baik berupa kata ataupun kelompok kata.begitu
juga cara penulisannya, umumnya tidak sama dengan aturan atau sistem penulisan
pada umumnya. Misalnya jika daam kalimat itu seseorang harus mengawalinya
dengan huruf besar dan selamanya di laksanakan. Hal itu memang sesuai hak
kepenyairan yang disebut dnegan hak licentia poetica.
Prinsip
dasar penerapan pendekatan parafratis pada hakikatnya berangkat dari pemikiran
bahwa.
a. Gagasan
yang sama dapat disampaikan lewat bentuk berbeda
b. Symbol-simbol
yang bersifat kinotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang
atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna
c. Kalimat-kalimat
dalam baris dalam suatu cipta sastra yang mengalami pelesapan dapat
dikembalikan lagi kebentuk dasarnya
d. Pengubahan
suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang simbolik dan eliptis
menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah
upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan.
e. Pengungkapan
kembali suatu gagasan yang sama menggunakan media atau bentuk yang tidak sama
oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca
itu sendiri.
Dari
prinsip dasar pada butir 5 itu dapat disimpulkan juga bahwa penerapan
pendekatan parafratis selain intuk mempermudah upaya pemahaman makna suatu
bacaaan juga digunakan untuk
mempertajam,memperluas dan melengkapi pemahaman makna yang diperoleh pembaca
itu sendiri.sebab itu nZ dalam pelaksanaannya nanti pendekatan parafratis ini
selain dapat dilaksanakan pada awal kegiatan mengapresiasi sastra juga dapat
dilaksanakan setelah kegiatan apresiasi berlangsung.
2. Pendekatan
emotif
Pendekatan
emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha
menemukan unsure-unsur yang mengajukan emosi atau perasaan pembaca. Ajukan
emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi
berhubungan dengan isi gagasan yang lucu dan menarik.
Prinsip-prinsip
dasar yang melatar belakangi adanya pendekatan emotif ini adalah pandangan
bahwa cipta sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir di hadapan
masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu menemukan unsure-unsur
keidndahan maupun kelucuan yang terdapat dalam karya sastra.
Sebab
itulah dalam pelaksanaan pendekatan emotif ini pembaca akan dihadapkan pada
pertanyaan-pertanyaan tentang : adakah unsure-unsur dalam karya cipta sastra
yang akan saya abaca ini ? bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu?
Dan bagaimana wujud keindahan itu sendiri setelah digambarkan pengarangnya?
Bagaimana cara pembaca menemukan keindahan sastra itu ? serta berapa banyak
keindahan itu ditemukan?.
Selain
berhubungan dengan masalah keindahan yang ebih lanjut akan berhubungan dengan
masalah gaya bahasa seperti metaphor,simile maupun penataan setting yang mampu
menghasilkan panorama yang menarik.penikmatan keindahan itu juga dapat
berhubungan dengan penyampaian cerita,peristiwa maupun gagasan tertentu yang
lucu dan menarik sehingga mampu
memberikan hiburan dan kesenangan kepada pembaca.
3. Pendekatan
Analitis
Sebuah
berhadapan dengan sebuah cipta sastra,pembaca dapat menampilkan pertanyaan :
unsure-unsur apakah yang membangun cipta sastra yang saya baca ini ? bagaimana
unsure-unsur itu ditata dan diolah oleh pengarangya?bagaimana peranan setiap
unsure itu dan bagaimana hubungan antara unsure yang satu dengan lainnya ? dan
bagaimana caranya memahaminya?jika pembaca berusaha mencari jawaban darin
keseluruhan pertanyaan itu pada dasarnya pembaca telah melaksanakan atau
menerapkan pendekatan analitis.
Pendekatan analitis adalah itu
sendiri adalah suatu pendekatan ysng berusaha memahami gagasan,cara pengarang
menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam dalam
menampilkan gagasannya,elemen instrintik dan mekanisme hubungan dari setiap
elemen instrintik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan
dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.
Penerapan pendekatan analitis itu
pada dasarnya akan menolong pembaca dalam upaya mengenal unsure-unsur intrinsic
sastra yang secara actual telah berada
dalam suatu cipta sastra dan bukan dalam rumusan-rumusan atau definisi seperti
yang terdapat dalam kajian teori sastra.selain itu pembaca juga dapat memahami
bagaimana funsi setiap elemen cipta sastra dalam rangka membangun analitis ini
adalah.lewat penerapan pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari bahwa ciptas sastra pada dasarnya diwujudkan
lewat kegiatan yang serius dan terencana
sehingga tertanamlah rasa penghargaan atau sikap yang baik terhadap
karya sastra.
Dalam
kehadiran pendekatan analitis ini, prinsip dasar yang melatarbelakangi adalah
anggapan bahwa :
1. Cipta
sastra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu.
2. Setiap
elemen dalam cipta sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki fungsi tertentu dan senantiasa
memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya meskipun karakteristik
masing-masing berbeda
3. Dari
adanya cirri-cirinya karakteristik setiap elemen yang satu dengan elemen yang
lainnya,pada awalnya dapat dibahas secara terpisah meskipun pada akhirnya
setiap elemen itu harus disikapi sebagai suatu kesatuan.
Dalam
pelaksanaannya, penerapan pendekatan ini adalah analitis ini diawali dengan
kegiatan membaca teks secara keseluruhan. Setelah itu pembaca menampilkan
beberapa pertanyaan yang berhubunganb dengan unsure-unsur instrintik yang membangun cipta sastra yang dibacanya.misalnya
sewaktu membaca mengapresiasi salah satu judul cerpen,lewat judul cerpen yang
dibacanya itu,setelah melaksanakan kegiatan baca terhadap keseluruhan cerpen
itu secara skimming,pembaca lebih lanjut menampilkan pertanyaan-pertanyaan
misalnya bagaimana tokoh dan pertanyaan perwatakan setiap tokoh dan pertanyaan
tentang unsure instrintik lain yang terdapat dalam cerpen itu. Setelah itu
pembaca kembali membaca ulang sambil berusaha menganalisis setiap unsure yang
setelah ditetapkannya.
Dari
hasil analisis setiap unsur, pembaca lebih lanjut berusaha memahami bagaiman
mekanisme hubungannya. Lewat mekanisme hubungan ini lebih lanjut pembaca
menganalisis bagaimana fungsi setiap elemen itu dalam rangka mewujudkan suatu
cipta sastra.
Dalam
pelaksanaannya,kegiatan analisis itu tidak harus meliputi keseluruhan aspek
yang terkandung dalam suatu cipta sastra. Dalam hal ini pembaca dapat membatasi
diri pada analisis unsure kebahasaan seperti yang dilaksanakan dalam pendekatan
atau text grammar. Dapat disadari misalnya kita berhadapan dengan roman siti nurbaya yang begitu tebal dan
melaksanakan kegiatan analisis pada seluruh elemen pendukungnya. Maka halnya
nanti sebaiknya anda memilih cipta sastra yang tidak begitu panjang,misalnya
cerpen atau puisi.
Kegiatan
mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analisis ini dapat dianggap
sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam menerapkan pendekatan
itu pembaca harus berangkat dari landasan teori tertentu bersifat objektif dan
harus mewujudkan hasil analisis yang tepat,sistematis dan diakui kebenarannya
oleh umum. Metode kerja demikian itu dapat disamakan dengan metode kerja pada
linguis dalam upayanya menerapkan metode deskriptif yang bersifat eksas dalam
rangka menelaah aspek kebahasaan dalam cipta sastra. Sebab itulah dalam
pelaksanaan nanti,apresiator dapat saja menggunakan bagan,tabel maupun
formulasi atau rumus-rumus seperti yang digunakan dalam ilmu eksakta.
BAB
III
PENUTUP
a. Simpulan
Memahami
karya sastra serta menganalis suatu karya sastra terutama cerpen selalu menarik
untuk dikaji,selain ceritanya yang pendek serta alur yang mudah,memudahkan para
sastrawan menganalisis sebuah karya sastra selain itu pemaknaan lewat semiotika
atau lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa komunikasi keseharian
komunikasi pada umumnya, lambang yang terdapat dalam teks sastra adalah lambang
yang sifatnya artistic.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminuddin,
2011,Pengantar apresiasi karya sastra,Malang
: Sinar Baru Algesindo.
Azis,siti
Aida,2011,Apresiasi dan Kajian prosa
Fiksi.Surabaya : Bintang Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar